the truth is not always outhere, but sometimes it lays within ourselves

Jupe


Semalem secara gak sengaja saya melihat tayangan wawancara sebuah stasiun tv dengan Julia Perez, artis yang lagi banyak dibicarakan karena kiprahnya ingin maju menjadi calon wakil bupati Pacitan.

Menurut saya sih, di wawancara ini Jupe ngomongnya lumayan enak didengar juga. Gak terlihat arogan ataupun merasa dirinya hebat. Apa yang dilakukan Jupe dengan memberanikan diri maju ke Pilkada Pacitan semata-mata karena panggilan sebagai anak bangsa yang ingin memajukan bangsanya sendiri, dan menurut saya itu semua sah-sah aja. Selama ia punya misi dan visi yang bagus dan mau memperbaiki diri, seorang seperti Jupe berhak untuk maju dan dipilih sebagai seorang pemimpin, bukan karena figur keartisan atau sosoknya yang bikin banyak orang tidak bosan-bosan memandang, tapi juga ia memiliki visi dan misi yang lumayan bagus, dimana ia melihat potensi daerah Pacitan yang bagus untuk dipromosikan ke dunia internasional, menurut saya itu merupakan sebuah cita-cita yang mulia.

Sudah saatnya memang, yang muda dan memiliki visi maju ke depan untuk tampil menjadi calon-calon pemimpin, sebab selama ini begitu banyak sosok yang terlihat bijak dan dianggap bagus maju sebagai pemimpin, namun pada saat menjalankan tugas, melahan melenceng dari visi dan misi yang diembannya sewaktu maju sebagi calon pemimpin. Saya pun, jika dipilih sebagai pemimpin di kota kelahiran saya, banyak sekali yang ingin saya benahi dalam rangka membuat kota kelahiran saya ini menjadi kota yang nyaman dan manusiawi. Sebab saya melihat banyak sekali ketimpangan-ketimpangan, ketidakmanusiawian, kesemrawutan yang tidak kunjung selesai diperbaiki. Saya tidak mengerti kenapa masalah-masalah ini tidak mendapat penanganan yang serius dari aparat pemerintah. Mungkin kota kelahiran saya pun memerlukan seorang Jupe yang lain yang bisa melihat potensi dan punya visi dan misi yang dapat bermanfaat bagi masyarakat banyak.

Jika


Engkau tau…sesuatu itu
Apakah engkau bisa menerimaku
Apakah engkau akan menjadikanku
tempat untuk melabuhkan perahumu

sementara kau disana
menjadi bintang bagi banyak orang
disini aku hanya sebuah lentera
yang terus mencoba menerangi
jiwa-jiwa yang sunyi

Jika saja…
aku bisa memandangmu setiap hari
tentu aku tidak akan menuliskan bait2 ini
karena dengan melihatmu saja
itu sudah cukup bagiku…

tapi aku menyadari
diantara kita memang banyak penghalang
dan aku tidak punya cukup keberanian
untuk meruntuhkannya

biarlah aku disini saja
bercengkrama dengan kesepian
di tengah keramaian

biarlah aku disini saja
memandangmu dengan pikiran…

Jeda


Antara kau dan aku ada jeda
Antara kau dan aku ada penghalang
Antara kau dan aku ada seseorang
Antara kau dan aku….

Apakah kau tidak menyadari ?
Ada sesuatu antara kau dan aku
atau hanya aku yang merasa
sementara kau…..tidak ?

Antara kau dan aku….
Ada sesuatu
Kuingin engkau tau…
Tapi kau sepertinya tidak akan pernah tau

Andaikan kau tahu…

Sesuatu yang baru, sesuatu yang lama dan sesuatu yang ingin saya tinggalkan…


Hmmm…udah lama nih gak ngeblog..habis kehidupan sehari-hari yang sibuk (Alhamdulillah saya masih punya kerjaan..) memaksa saya untuk tetap fokus dan terus bergerak, melakukan berbagai adaptasi di lingkungan kerja yang baru, yang, walaupun industrinya sama, tapi tetap saja ada perbedaan, ada plus minus, ada saat-saat dimana saya mengalami tekanan yang cukup berat dan ada saat-saat dimana saya bisa tertawa riang dan bercanda dengan kolega yang lain, dan ada saat-saat dimana saya berpikir untuk beralih profesi atau berwiraswasta dan pikiran itu kerap muncul menggoda saya, untuk memulai sesuatu yang baru, memulai menata ulang, tapi sepertinya bekal saya belum cukup untuk memulai itu semua.

Saya punya berbagai ide tentang kehidupan saya di masa datang, saya ingin jadi penulis (tentunya dengan bayaran yang setimpal, buka cuma nulis diblog seperti ini, semua orang juga bisa melakukannya), tapi saya belum sama sekali menerbitkan sebuah novel, saya ingin punya warnet, tapi modal belum ada dan strategi bisnisnya belum tahu harus bagaimana, saya ingin punya coffee shop (karena saya suka banget minum kopi), tapi lagi-lagi terbentur modal dan saya belum tahu banyak tentang seluk beluk bisnis di bidang Food and Beverages, saya ingin jadi petani, tapi saya takut gagal panen, saya ingin bisnis ikan hias, tapi saya pernah memelihara beberapa ikan hias dan hanya bertahan satu minggu lalu mereka semua kembali ke pangkuan Yang Maha Kuasa…:-)

Jadi, apa yang harus saya lakukan sekarang ? ya sudah, saya melakukan saja apa yang bisa saya lakukan, fokus dengan pekerjaan, sembari mencari-cari peluang baru atau mencari-cari ide bagaimana meningkatkan kualitas hidup saya untuk menjadi lebih baik.

Kebahagiaan hidup itu ternyata relatif ya. Ada yang sudah punya uang milyaran tapi masih resah dan bingung takut uangnya berkurang, ada yang punya uang triliunan tapi sangat sibuk bukan main hingga sulit menemukan hidupnya dan dirinya sendiri, ada yang punya uang pas-pasan saja tapi sibuk mengkhayal dan bermimpi macam-macam (seperti saya ini hehehe), ada yang punya uang sedikit tapi masih bisa tertawa lebar di pinggir jalan dan bercanda dengan teman-temannya (seperti pengamen, pedagang koran, dan lain-lain).

Yah, ternyata apapun peranan kita, jalani saja..toh Tuhan tidak pernah mendoktrin kita untuk memiliki rumah mewah, mobil keluaran terbaru, handphone Blackberry di dalam kitab suciNya. Yang Ia inginkan dari kita sebenarnya sederhana saja, hiduplah dengan menjadi bermanfaat untuk orang lain dan lingkungan sekitar. Hiduplah dengan penuh kesabaran. Hiduplah dan berikanlah apa yang bisa kau berikan untuk kehidupan ini, dan berharaplah untuk kehidupan yang lebih baik….

Ahh..sepertinya kok saya jadi seperti seorang penceramah nih…jadi nggak enak..udah dulu deh, ntar disambung lagi…moga-moga saja saya bisa mendapatkan apa yang saya inginkan selama ini di masa-masa mendatang…doakan aja ya friends…dan semoga cita-cita kalian semua bisa terwujud…..ciao…:-)

Acara Sahur yang tidak mendidik


Setiap bulan Ramadhan, selama hampir dua dekade ini, di era menjamurnya televisi swasta, setiap saat sahur tiba kita kerap disuguhi dengan tayangan-tayangan yang bersifat komedi. Entah kenapa tayangan-tayangan ini tetap awet, perasaan dari saya masih duduk di bangku SMA sampai sekarang dan kadang menghadirkan komedian-komedian yang lagi naik daun dan komedian-komedian senior.

Awalnya, seingat saya, tayangan komedi ini masih dalam batas yang wajar (dalam hal lawakan dan melempar joke), tapi kok sekarang ini sudah menjurus ke arah fisik ya cara bercandanya dan terlihat kasar pula. Seperti contoh, yang sering saya lihat, dengan seenaknya seseorang memasukkan sesuatu ke mulut rekannya yang sedang terbuka, dan kadang seorang yang lain dengan tidak sungkan mendorong kepala rekannya yang lebih junior.

Melihat tayangan demikian, saya agak sedikit shock dan juga miris, kenapa ya, tim kreatif mereka kok bisa-bisanya membiarkan adegan-adegan yang tidak mendidik itu, yang jika dilihat oleh adik-adik kita yang masih duduk di sekolah dasar, yang juga sedang belajar berpuasa dan ikut makan sahur, maka mereka akan berpikir bahwa semua tingkah laku tersebut sah-sah saja dilakukan oleh siapa saja, karena toh televisi saja menayangkan adegan-adegan itu di saat bulan Ramadhan, di saat kita sedang melakukan ritual yang bersifat sunnah, yaitu makan sahur. Alangkah indahnya jika acara sahur itu diisi dengan tayangan-tayangan, misalnya film yang bersifat Islami (salut buat SCTV yang menayangkan terus Para Pencari Tuhan), sejarah Islam atau ziarah ke pusat-pusat kebudayaaan Islam di dunia.

Memang, bangun sahur itu sangat berat dan kita perlu sesuatu yang menyegarkan agar tidak mengantuk sewaktu makan sahur, tapi setidaknya pihak-pihak yang berkecimpung di media informasi, terutama televisi, lebih selektif dalam menayangkan acara-acaranya agar tidak menyimpang dari norma-norma masyarakat dan norma-norma agama.

Saatnya Bangga dengan Budaya sendiri


Lagi-lagi, salah satu asset kebudayaan kita, bangsa Indonesia diklaim oleh negeri Jiran, Malaysia. Mulai dari batik, angklung, bunga raflesia, dan sekarang tari pendet. Kenapa ya negara tetangga kita itu kok seenak perutnya mengaku-ngaku budaya kita ? padahal waktu gue ke KL kok rasa-rasanya mereka itu bangsa yang lebih maju dari kita, dilihat dari infrastruktur dan kedisplinan masyarakatnya ya, pokoknya gue sampai merasa minder karena kok gue lihat bangsa kita makin ketinggalan aja sama dua negara tetangga, Singapura dan Malaysia.
Terkadang gue agak miris dengan perilaku bangsa sendiri, karena kita nih, kebanyakan baru sadar dan menyadari apa yang kita punyai setelah ada orang lain atau bangsa lain yang mencuri milik kita, dalam istilah bulenya “You don’t know what you’ve got till it’s gone”…masih segar dalam ingatan ketika batik diklaim oleh Malaysia, tiba-tiba batik menjadi tren di masyarakat kita, padahal sebelumnya batik hanyalah pakaian yang dipakai pada saat-saat tertentu saja.
Mungkin memang sudah saatnya kita berbenah diri di dalam. Kita harus menyadari dan mulai menghargai budaya kita sendiri. Sudah saatnya tari-tarian tradisional menjadi pelajaran di sekolah dan tontonan wajib yang ditayangkan TV Swasta ketimbang menampilkan band-band yang hanya menyanyikan tema lagu yang hampir sama (cinta), atau sudah saatnya mal-mal besar lebih mengutamakan penjualan produk-produk kerajinan dalam negeri ketimbang produk-produk branded luar atau produk-produk elektronik dan gadget yang semakin membanjiri pasar kita.
Sudah saatnya pula makanan dan minuman tradisional kita menjadi makanan utama yang dijual di mal atau restoran-restoran mewah, dan pakaian tradisional menjadi pakaian wajib pada saat-saat tertentu…hmm kira-kira apakah kita bisa melakukan itu semua ? sepertinya kita bisa dan memang harus bisa, tapi entah kapan semua itu bisa dilakukan, karena campur tangan pemerintah sangat besar dan juga pihak swasta yang berhubungan dengan media informasi.
Akhir kata, mari kita sama-sama selamatkan asset budaya kita, berbanggalah dengan budaya kita dan peliharalah budaya kita dan jangan sampai ada bangsa lain yang mencurinya lagi.

Another stupidity calls suicide bombing


Wah wah wah,

Ketenangan Jakarta dan kebanggaan diri sebagai bangsa karena pemilu pilpres telah usai dengan damai dan aman terkendali terkoyak sudah, bom yang meledak di JW Mariott dan Ritz Carlton kembali membuat warga Jakarta harus was-was dan ekstra hati-hati, juga (lagi-lagi) kepercayaan dunia Internasional yang mulai pulih kembali berkurang, Manchester United yang udah mau lari2an nendang bola di Senayan dan jutaan tiket udah dijual ke para bola mania terpaksa harus membatalkan jadwalnya ke Jakarta, padahal, tak sedikit biaya yang udah dikeluarin panitia untuk iklan.

Yah, sekali lagi, gue masih nggak ngerti tujuan mereka melakukan teror yang super duper gak elegan dan pengecut itu. Yang gue tau, cuma manusia yang udah dikuasai sama syetan dan hawa nafsunya yang bisa membunuh sesama manusia…Mudah2an Tuhan YME melindungi kita semua dan kepada para pelaku teror bisa cepat-cepat bertobat, sebab bagaimanapun, Tuhan YME akan segera membalas segala perbuatan kita, jika kita sering berbuat baik ya akan dibalas dengan baik, tapi jika kita berbuat jahat, apalagi kepada orang yang tidak punya salah dengan kita, maka siap-siaplah akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuatanmu itu.

The King and I


25 Juni 2009 lalu, mungkin tak akan pernah dilupakan oleh sebagian penduduk dunia, terutama para penggemar musik, penikmat musik dan juga para pemusik, yup, the day when Mr. Michael Joseph Jackson a.k.a Michael Jackson a.k.a The King Of Pop a.k.a Jacko passed away, tak akan pernah dilupakan oleh para penggemarnya, kematian sang Raja benar-benar membuat dunia sempat tertunduk, dan berduka, dan semalam baru saja digelar upacara penghormatan terakhir kepada sang raja musik pop itu.

Bagi saya, yang (mantan) penggemar Jacko waktu SMA dulu, dan kemudian dikarenakan banyak sekali manuver-manuver yang menurut saya nggak penting dikerjakan oleh seorang Jacko (seperti operasi plastik yang berlebihan dsb) maka saya jadi kurang simpati kepadanya, dan agak kurang menyukai sosoknya, meski saya masih senang mendengarkan beberapa hitsnya seperti Man In the Mirror yang menurut saya sangat menyentuh dan karena mendengarkan lirik lagu itu saya jadi terpengaruh untuk memberikan uang kepada anak-anak jalanan, yang isinya sbb :

I see the kids on the street with not enough to eat, who am i to reblind, pretending not to see their needs

atau dalam lirik dalam Heal The World :

Heal the world, make it a better place, for you and for me and the entire human race, the are people dying, if you care enough about living, make a better place for you and for me

atau ketika saya sedang gundah karena cinta ditolak, maka lirik dalam Man In the Mirror kembali menjadi penguat diri saya :

I’ve been a victim of, a selfish kind of love, but now that i realize, there are some with no homes, with no nickel to loan, could it be really me, pretending not know they’re alone

atau ketika saya bingung dengan karir dan kehidupan saya, kembali lirik Man In the Mirror terngiang di pikiran saya :

I gotta make a change, for once in my life, gotta be real good, got to make it better, got to make it right….

If you wanna make this world a better place, take a look at yourself and make a change….

So bagi saya, Jacko bukan hanya sebagai raja musik pop yang terkenal dengan moonwalk yang keren abis itu, tapi juga melalui lirik-lirik lagunya yang bertema sosial dan lingkungan (seperti Earth song), sepertinya dia sendiri sebagai individu ingin merubah dunia menjadi sebuah tempat yang nyaman untuk ditinggali bagi siapapun, dari ras dan agama apapun, dan impiannya itu sampai sekarang belum terlihat benar-benar terwujud.

Selamat Jalan Jacko, semoga impianmu untuk dunia yang lebih baik bisa terwujud. Amin.

Beli nggak ya ?


Abis gajian nih..udah lima hari yang lalu. Seneng sih, tapi tetep aja harus diatur pengeluarannya supaya gak kebablasan kaya kemaren2….mana lewatin mall isinya diskon melulu..belum lagi penawaran diskon dari restoran2 dgn kartu kredit tertentu….wew…bikin ngiler pengen ngegesek tu kartu kredit, terus program cicilan tetap untuk barang2 yg lumayan mahal….tapi…gue mikir lagi, sebenarnya perlu gak ya sama barang-barang itu…setelah gue timbang2 ya nggak perlu sih, jadi gak jadi beli deh.

Hmm…Blackberry, Iphone, Nokia Xpress Music, Notebook…barang2 itu selama ini cuma ada di kepala gue doang, tanpa pernah gue berani untuk mewujudkannya di genggaman tangan..padahal kalo lihat orang lain pada pakai blekbereh kadang2 gue ngiri..tp apa daya, demi keselamatan kondisi keuangan gue maka semua keinginan itu hanya ada di kepala aja, tanpa pernah gue bisa wujudkan..tapi sebenernya gue gak suka2 amat sih sama blackberreh atau ivone…tp karena iklan yang gencar dan dimana2 dipakai orang, gue jadi kepengen juga, tapi jujur aja, gue gak suka bentuknya blackberreh atau ivone…gak nyeni menurut gue, tapi dalemnya pasti canggih dong pastinya.

Hehehe udah ah, doain gue aja ya biar bisa beli barang2 yg selama ini cuma ada dikepala gue itu secepatnya ya..

dealova


aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kaurindu
karena langkah merapuh tanpa dirimu
karena hati t’lah letih…..

Deretan bait lagu Dealova yg dinyanyikan oleh vokalis Dewa 19, Once, terngiang-ngiang terus dipikirannya. Dia tidak mengerti mengapa lagu itu terasa amat penting baginya….mungkin karena liriknya yang indah, mungkin karena suara Once memang bagus, mungkin musiknya yang memang enak didengar..tapi tidak juga…pertamakali mendengar lagu itu ia sama sekali tidak tertarik dan bahkan benci, karena liriknya yang ia nilai cengeng dan tidak bermutu.

Tapi entah kenapa, lagu itu selalu ingin ia dengar, kenapa bait-bait pertama di lagu itu selalu ada di pikirannya, dan setiap kali bait itu dinyanyikan oleh pikirannya, serta merta bayangan orang yang pernah dekat dengannya beberapa tahun yang lalu muncul…seseorang yang pernah membuat hari-harinya menyenangkan lalu menjadi kelabu seperti awan mendung. Seseorang yang pernah membuatnya terbangun di malam hari dan terdiam sambil menatap jam dinding yang menunjukkan angka 12..lalu tak sadar air matanya jatuh.

Dia sekarang telah berkeluarga dan orang itupun demikian. Namun kehidupan keluarganya hambar. Ia tidak merasakan cinta yang memabukkan, tidak merasakan rasa deg-degan dan rasa rindu yang menggila…ia hanya merasakan kewajibannya sebagai suami yang harus bekerja di siang hari dan pada malam hari berkumpul dengan istrinya…tapi ia tidak merasakan sensasi yang sama sewaktu ia bersama wanita itu…yang sekarang sudah bersuami dan beranak empat, yang sekarang sudah bersuamikan seorang pejabat di sebuah instansi pemerintahan.

Ia pernah mencoba menutup hatinya dan tidak ingin masalalu itu datang kembali di pikirannya, namun tiba-tiba saja ia merasa terganggu oleh lirik-lirik lagu itu. Setiap hari sepanjang perjalanan pulang kantor ia selalu menyetelnya dengan volume dibesarkan. Sebelum tidur pun ia menyempatkan diri mendengar lagu itu, sampai-sampai istrinya menjadi kegeeran sendiri karena dia pikir lagu yang ia setel di kamar sebelum tidur itu ditujukan untuk dirinya.

Kisahnya dengan wanita itu mungkin tidak seindah seperti kisah cinta di film Dealova..tapi hatinya selalu berkata bahwa kisah antara dia dan wanita itu seperti terwakili oleh bait-bait dari lagu itu.